TERSERAH PADAMU TUAN....!

mungkin dia berkata :


Terserah padamu tuan, aku hanya mengekspresikan diri sebagaimana adanya. Inilah aku apa adanya tidak kurang tidak juga lebih, lihatlah dengan hati jangan sekedar mata. Saya juga tahu mata bisa menipu tapi hati tidak. Lihatlah lagi dengan seksama menggunakan matahatimu. Sungguh aku tidak bermaksud mencemarkan bangsa yang kubanggakan "Indonesia" .Atribut bendera dan semua merah putih yang kukenakan ini adalah bukti cintaku pada negeriku yang kini sepertinya menelantarkanku, aku tidak pintar meski sadar dan paham bahwa mestinya aku dijamin oleh negara sebagaimana UUD'45 yang pernah aku hafalkan pasal-pasalnya.

Terserah padamu tuan, aku hanya mengekspresikan diri sebagaimana adanya. Inilah aku yang bahagia dalam lena tidurku beratap biru langit dikamar tidurku yang luas tak berbatas. Tak begitu perduli perhatianmu karena aku adalah "binatang jalang" sebagaimana tutur santun Chairil Anwar. "Aku" bukan pecundang yang berdemo dimana-mana dengan segala ricuh dan kehancuran setelahnya. Aku adalah patriot dalam kesendirianku yang menghormati kedamaian saudaraku sebangsa yang terikat oleh dua warna "merah-putih". Bukan sifatku mengemis meminta-minta belaskasihan dan selalu mempersalahkan ibu pertiwi atas ketidak beruntunganku, bukan..... aku mampu bertahan dalam kesendirianku tanpa belas kasihanmu.

Untuk Pak SINDORO
yang sedang terlelap dibawah merah putih
Lokasi : Pagar underpass Ciledug Raya Tangerang BAnten.

SAMPAH DAN CILEDUG

SAMPAH dan CILEDUG

Timur kota Tangerang,

Ciledug, sebuah kota kecil yang berkembang pesat dengan tumbuh kembangnya berbagai gedung perniagaan, memiliki pasar tradisional baru "Pasar Lembang". Pasar yang selalu berubah muka. Suatu saat jalan masuk kepasar ini bersih dari pedagang dikiri-kanannya, disaat yang lain penuh pedagang, disaat yang lain lagi digusur atau entah diapakan lalu menghilang dan bersih lagi. Begitu terus berulang. Sebetulnya pasarnya terletak dibelakang sebuah tanah kosong yang dikelilingi pagar cukup tinggi.

Bukan pasar yang menjadi kegundahanku.
Setiap pagi hari, ketika para pekerja berangkat kekantor atau aktivitas yang lainya dan melewati "pasar Lembang" akan memperoleh suguhan sebuah pemandangan yang kurang nyaman dipandang mata. Bukan keindahan taman kota ataupun jajaran toko yang nyaman, bukan itu. Tapi sampah yang berada disepanjang median jalan "Rd. Fatah" yang berada didepan Pasar Lembang. Ada berjajar kantong plastik beraneka ukuran dan warna berisi sampah yang berjajar disepanjang median jalan. Sepanjang mata memandang tepat ditengah jalan ada kantong-kantong sampah, aneh ya. Memang aneh ada median jalan yang menjadi tempat sampah yang cukup panjang, ya..cukup panjang.

Ya memang setiap hari juga sampah itu kemudian diangkut oleh truk dari dinas kebersihan dan pada siang harinya kembali bersih.

Tetapi masalahnya adalah 2 atau 3 jam sampah yang ada dipagi hari itu memberi image yang kurang bagus khususnya untuk kota Ciledug atau Tangerang secara umum. Bila orang melewati jalan Rd. Fatah tepatnya didepan Pasar Lembang akan mengambil kesimpulan secara general " Kumuh amat kota Ciledug".

Siapa yang harus dibenahi, pemahaman dan kesadaran masyarakat/pedagang atau pemerintah setempat yang tidak memiliki program bagaimana menyadarkan masyarakat.

Pertanyaannya "Begitu sulitkah memenej sampah di kota Ciledug ini?". Atau mungkin nggak sih diberikan gerakan penyadaran masyarakat atau pedagang tentang pentingnya kebersihan dan keindahan? atau apapun bentuknya, tentu yang lebih menyenangkan bila melihat kota "CILEDUG" yang bersih, indah dan aman. Mungkin gak sih...?

GAYA TINDIK

Gaya Doang Buat Apa....

Luar Biasa
gaya menindik telinga yang ditampilkannya. mungkin maksudnya gak sekedar gaya, karena bila telephonenya berdering langsung bisa didengar ditelinganya. Kemana saja dan apapun aktivitas gak perlu repot-repot menggenggamnya. Sudah siap langsung ditelinga, gak perlu merogoh kantong atau takut jatuh hilang.

Jadi ingat sebuah iklan di salah satu web "Gaya doang buat apa" tetapi dengan maksud yang berbeda. Karena kalimat selanjutnya adalah "Kalau HP kamu bisa menghasilkan uang". Nah kalimat ini bisa melengkapi gaya seperti tersebut diatas.

Ini sepenggal cerita sebuah sekolah yang dibangun dengan megah melebihi model sekolah yang ada diseputar Ciledug. Awalnya saya tidak mengira bahwa di sudut kota kecil Ciledug dengan lokasi agak dibelakang perumahan, tertutup dengan hiruk pikuk banyaknya bangunan dan aktifitas manusia berdiri bangunan indah dan megah.


Luar Biasa....! Terbersit untuk mengetahui siapa dibalik cerita indah ini, siapa yang membidani??. Setelah bertanya ke sekitar lokasi dan langsung menuju ke TKP akhirnya ketemulah dengan seseorang yang berada di balik berdirinya Gedung Sekolah ini. Ianya adalah Bapak Ojrat Mugiyono, M.Pd.

Sosok seorang pria setengah baya yang dibalut kesederhanaan inilah yang telah memulai mengukir sejarah buat diri dan organisasinya Muhammadiyah. Kemudian kami minta beliau bercerita,
Bukan saya yang membuat, gedung ini adalah karya bersama seluruh lapisan masyarakat mulai dari jamaah atau warga Muhammadiyah sampai unsur pemerintah. Bermula pada tahun 2001 ketika saya mendapat amanat menjadi kepala sekolah di SMP Muhammadiyah 2 Tangerang yang berlokasi di Ciledug. Pada saat itu kondisinya kita menumpang di SMA Muhammadiyah 1 dengan lokasi yang sama. SMP ada muridnya tetapi tidak memiliki gedung yang sepantasnya. Maka dengan do'a dan saya niatkan dengan basmallah merintis jalan supaya kita bisa membangun. Waktu itu saya dibantu Pak Nurdin (almarhum) yang mengatur keluar-masuknya keuangan. Kami mencari bantuan dan mengelola sumber keuangan dengan sebaik-baiknya dengan hanya satu niat yakni harus punya gedung pembelajaran. Dan ketika memperoleh bantuan dana dari pemerintah kami selalu berprinsip dapat satu harus jadi dua, artinya bila memperoleh bantuan untuk membangun satu kelas kami berusaha untuk menjadikan dua kelas meskipun mentah, nanti sambil jalan kita selesaikan sedikit demi sedikit. Untunk Konsep model kami memperoleh masukan dari bapak A Rachmani Ilyas yang lebih mengerti tentang seni. A Rachmani Ilyas adalah salah satu pengurus perguruan Muhammadiyah Ciledug. Beliau inilah yang selalu mengawasi perkembangan pembangunan sekolah hingga berdiri semegah sekarang, Alhamdulillah



.

Melihat CILEDUG dari DEKAT

Selamatlah Anda telah tersasar di dunia mayaku ini.

Tiada mengapa mumpung terlanjur nyasar, sekalian kenalan saja dengan daku yang gaptek teknologi ini. Syukur-syukur mau bantu saya dengan saran agar orang gaptek didunia ini berkurang satu.

Kutulis web ini untuk sekedar nanya dan cerita kegundahan hati terhadap bangsa ini. Yang hari demi hari makin terpuruk dan tersudutkan dalam pojok kekelaman. Moral, Etika, sopan santun, kemiskinan, pengangguran, dan banyak keresahan yang mengharu-biru dalam nurani.
Bila sempat bantu kami kurangi beban dihati meski hanya sekedar mendengar cerita kami. Bila Anda berkenan, beri kami cahaya harapan yang memberikan pencerahan lahir bathin agar bisa membantu hidup bangsa ini untuk lebih bermartabat,berkelimpahan harta dan semakin sehat.

Tiada mengapa, sayapun mulai suka nyasar, dan kehilangan arah. Biarlah Anda tahu sampai mana saya “nyasar” dan tiada terasa kaki inipun melangkah diarah yang berbeda.

Kini kumulakan dengan cerita tentang apa dan apa adanya kota kecil CILEDUG yang kini berkembang pesat. Ya ini adalah Lika-Liku Kota Kecil "CILEDUG" Dimana Aku Kini Terdampar. Yang Berkembang Pesat, Dengan Segala Panorama Yang Ditimbulkannya. SUKA-DUKA. LARA-BAHAGIA.


OSCAR JRat


;;